HomeLIFESTYLEHebatnya Seorang Ayah itu Bukan Terletak Pada Galaknya Dia Pada Anak, Tapi Ada Pada Kelembutannya Dengan Anak

Hebatnya Seorang Ayah itu Bukan Terletak Pada Galaknya Dia Pada Anak, Tapi Ada Pada Kelembutannya Dengan Anak

SHARE THIS:

Seorang lelaki memang dikenal lebih kuat dari wanita. Dibandingkan dengan sosok ibu, seorang ayah memang seringkali dianggap sebagai sosok yang tegas, disiplin dan berkarakter kuat. Dan tak jarang kebanyakan anak-anak akan menganggap ayahnya lebih galak daripada ibunya.

Kadang seorang ayah menunjukkan posisinya sebagai “pemimpin keluarga” dan menjaga otoritasnya dengan bersikap tegas cenderung galak pada anak. Padahal hebatnya seorang ayah tidak terletak pada betapa galaknya dia sama anak.

Tidak.

Justru ayah yang menunjukkan sikap galak pada anak yang terus menerus, bisa membuatnya jauh dengan anak. Tidak dekat dengan anak. Sehingga anak akan menjauhi ayahnya. Kalau sudah begitu, maka kehebatan pada ayah tak akan ada.

Menjadi ayah yang berwibawa bukan berarti harus galak pada anak

Anggapan kuno itu adalah bersikap galak merupakan jalan agar seorang Ayah bisa terkesan lebih berwibawa di mata anak-anak. Anggapan itu bakal membuat seorang ayah mau tidak mau terlihat sangar dan menjaga jarak dengan anaknya. Dikiranya bahwa urusan mengasuh anak cuma tugasnya para ibu saja.

Itulah anggapan kuno. Itulah ayah yang kuno.

Cara-cara seperti itu hanya akan menimbulkan rasa takut pada anak. Hanya akan membuat hati anak menjadi kerdil. Lambat laun ia malah tidak mau dekat dengan ayahnya. Ia hanya patuh karena rasa takut saja, bukan karena patuh pada nasihat ayahnya. Padahal anak, agar ia jiwanya bisa tumbuh kembang dengan baik, ia harus dipenuhi rasa cinta dan kasih sayang.

Bersikap galak itu artinya tegas pada anak, agar anak bisa disiplin. Itu keliru

Banyak ayah yang berpikir bahwa tegas itu artinya harus berkata keras, harus bermuka garang, harus bersikap galak. Padahal tegas dan galak itu lain soal. Dua hal itu sungguh sangat berbeda.

Bersikap tegas itu seharusnya ayah harus konsisten dalam mengikuti teguran, perintah, maupun larangan yang telah diucapkan kepada anak. Sedangkan galak sebagian besar merupakan respon emosi dan amarah kepada anak.

Membuat anak disiplin pun tidak semestinya bertampang garang. Disiplin bisa hadir apabila orang tua konsisten dengan aturan yang telah dibuat untuk anak. Nah, kebanyakan orang tua tidak konsisten terhadap peraturan itu dan “kalah” dengan rengekan anak.

Seorang ayah juga manusia, ia punya perasaan yang bisa membuatnya menangis atau bahagia

Gengsi.

Ya, gengsilah yang menghalangi seorang ayah untuk meluapkan perasaannya pada anak. Rasa gengsi ini akan menghalangi seorang ayah untuk menangis di hadapan anaknya. Menurut seorang teman, tindakan menangis merupakan hal yang manusiawi. Artinya, jika seorang ayah berusaha mati-matian menahan tangisnya di saat air mata itu diperlukan, hal ini akan menghilangkan kepekaan sisi kemanusiaan pada sang anak.

Ayah yang demikian justru terlihat kurang sensitif dan terkesan memiliki hati batu.

Menjadi ayah yang hebat tidak diperlukan sikap yang galak, tapi kelembutan

Ayah yang hebat tidak diperlukan sikap yang galak dan suara yang lantang. Sikap galak, apalagi kepada anak yang masih balita, tidak akan membuat anak lebih hormat. Mereka hanya lebih takut.

Ayah yang hebat tidak harus menutupi kekeliruannya hanya demi menjaga wibawa “selalu benar” di mata anak. Kalau memang berbuat salah, akui saja. Dan minta maaf. Hal itu justru akan menambah kehebatan seorang ayah.

Ayah yang hebat juga bukanlah ayah yang bekerja terus menerus di luar rumah. Yang lebih asyik di luar rumah, dan melupakan kebersamaan dengan keluarga.

Ayah yang hebat adalah ayah yang bisa menemani anak bermain. Tidak gengsi menjadi “kuda-kudaan” untuk si kecil. Ia juga menggunakan kata-kata yang lembut dan penuh cinta. Ia bisa bersikap tegas, tapi tegasnya bukan galak dan bukan untuk menakut-nakuti anak, tapi untuk mendidiknya.

Hebatnya seorang ayah, terlihat dari seberapa dekat ia dengan anaknya.

SHARE THIS: