HomeEVENTMelestarikan Tradisi Islam Melalui Baayun Maulid

Melestarikan Tradisi Islam Melalui Baayun Maulid

SHARE THIS:

Banjarmasin memiliki cara unik dalam memperingati Maulid Nabi SAW, 12 Rabiul Awal yakni dengan menggelar acara Baayun. Tradisi Baayun sudah dilaksanakan sejak beratus-ratus tahun yang lalu. Baayun Maulid adalah kegiatan mengayun seseorang sambil membaca syair Maulid.

Biasanya sebulan sebelum peringatan Maulid Nabi Muhammad, diadakan
pendaftaran peserta Baayun. Siapa pun boleh mendaftar menjadi peserta, bayi, anak, orang dewasa, maupun orang-orang tua. Pada tahun ini, peserta termudanya adalah bayi berumur 3 hari dan peserta tertuanya adalah nenek berumur 70 tahun.

Adapun tujuan tradisi ini adalah supaya seseorang yang diayun menjadi orang yang sholeh-sholehah dan mendapat keberkahan hidup.

Pada awalnya, ritual Baayun adalah sarana untuk menyebarkan agama Islam di masyarakat Banjar. Perayaan ini dilakukaan dengan maksud agar anak yang diayun sejak kecil telah diperkenalkan dengan masjid dan diharapan ketika anak itu dewasa, ia menjadi orang yang mencintai masjid (Fatur Rahman; 2016).

Seperti halnya ritual pada umumnya, ritual Baayun memiliki aturan serta arti sendiri dalam setiap tindakannya. Seperti saat mengayun anak, Maayun (orang yang mengayun) menyerahkan piduduk yaitu sebuah sasanggan yang diisi beras kurang lebih 3,5 liter, sebiji gula merah, sebiji kelapa, sebiji telur ayam, benang, jarum dan sebongkah garam serta uang perak/koin. Piduduk ini melambangkan tentang kehidupan, misal; beras agar paras muka lebih baik, kelapa dan gula agar setiap pembicaraannya lamak (gurih) dan manis (Susi Ivaty, 2017).

Aturan tersebut juga berlaku pada ayunan yang digunakan. Dalam buku Materi Muatan Lokal Kebudayaan Banjar (2011) menerangkan bahwa ayunan yang digunakan dalam Baayun adalah tiga lapis kain, yaitu Kain Sarigading (sasirangan) yang digunakan pada lapisan atas. Kemudian lapisan tengah menggunakan kain kuning (kain belacu yang diberi warna kuning dari saripati kunyit). selanjutnya lapisan bawah tapih bahalai (kain panjang wanita).

Pelaksanaan Baayun setiap tahunnya selalu dipenuhi antusiasme masyarakat. Jumlah peserta selalu saja melebihi target. Seperti pada tahun ini (2019), peserta Baayun mencapai 500 peserta. Padahal, targetnya hanya 400 orang. Mereka bukan hanya berasal dari Kalimantan, melainkan ada yang berasal dari Riau bahkan Jakarta.

Adapun tempat pelaksanaan baayun berubah-ubah setiap tahunnya. Pada tahun 2017, Baayun dilaksanakan di Masjid Keramat Nurul Amilin di Haur Kuning. Kemudian pada tahun 2018 dilaksanakan di Masjid Jami Sungai Jingah, dan sekarang dilaksanakan di Kubah Basirih.

SHARE THIS: