HomeLIFESTYLERUMAH-RUMAH APUNG TEPI SUNGAI DI BANJARMASIN

RUMAH-RUMAH APUNG TEPI SUNGAI DI BANJARMASIN

SHARE THIS:

Ketika menyusuri berbagai sungai di Banjarmasin, akan terpampang di kiri dan kanan kita jajaran rumah apung. Bagi orang pendatang tentu bertanya-tanya, mengapa orang Banjar gemar membangun rumah di perairan seperti ini?

Jika ditelurusi, ternyata kebiasaan tersebut telah ada sejak nenek moyang orang Banjar. Sebelum muncul suku atau kelompok masyarakat yang disebut Banjar, suku-suku yang ada di Kalimantan sebelah selatan cenderung tinggal secara terpisah. Meski terpisah, mereka punya satu kesamaan yaitu membangun rumah di dekat sungai.

Jejak kedekatan orang Banjar dengan sungai bisa tergambar dari suku Banjar Pahuluan yang banyak mendiami Sungai Negara. Selain Suku Pahuluan, banyak kelompok masyarakat pendatang seperti suku Melayu dan Jawa yang memilih mukim di tepi sungai. Kebudayaan sungai ini sebenarnya bukan cuma khas Banjar, di kebudayaan yang lebih tua seperti Mesir juga melakukan hal serupa yaitu mendiami lembah Sungai Nil. Kedekatan akan sumber air dan kesuburan tanah lembah sungai dianggap para ahli sebagai alasan pemukiman banyak dibentuk di sana.

Dalam sejarahnya, lembah sungai di Banjar bukan saja dimanfaatkan sebagai tempat untuk ditinggali. Sungai menjadi wahana transportasi penting untuk berdagang dan bepergian. Artinya, tinggal di tepi sungai menjadikan orang Banjar mudah untuk bepergian dan bertemu dengan pedagang dari daerah lain.

Tradisi itulah yang hingga kini tampaknya masih berjalan. Sehingga banyak penduduk Banjar yang membangun rumah hingga di atas sungai. Rumah tipe ini disebut Rumah Lanting dan merupakan salah satu rumah tradisional di Banjar.

Konon desain rumah ini mulai dikembangkan ketika Kesultanan Banjar berdiri di abad 16. Pada waktu itu permukiman tepi sungai telah menjadi karakteristik utama penduduk Banjar. Maka muncullah desain rumah dengan pondasi rakit untuk bisa mengapung di air.

Rumah Lanting biasanya terbuat dari kayu, materi yang cocok dan cukup ringan untuk mengapung di atas air. Rakit untuk Rumah Lanting biasanya terdiri dari tiga gulung besar kayu sebagai pondasi. Pada pondasi inilah dibangun lantai dan dinding dari kayu. Selain membuat bangunan utama, rumah terapung biasanya juga dilengkapi dengan jembatan kecil untuk mobilitas penghuninya.

Seiring perkembangan zaman, desain ini mulai berubah. Kini banyak rumah di tepian sungai Banjarmasin tidak lagi memakai desain Rumah Lanting, tetapi rumah panggung. Rumah panggung ini meskipun tampak mirip, tetapi menggunakan teknik bangunan yang berbeda. Rumah panggung menggunakan kaki-kaki, dari kayu atau beton, untuk menopang bangunan utama agar tidak tergerus air.

Pergeseran ini didasari oleh rentannya Rumah Lanting terhadap guncangan yang biasa timbul ketika perahu lewat di sekitarnya. Kerusakan dan guncangan akibat ombak tersebut membuat kebanyakan penduduk Banjar kini memakai desain rumah panggung yang lebih kuat dan tahan guncangan. Namun hal tersebut tidak mengubah karakter dasar orang Banjar yang terikat kuat dengan sungai tempat kebudayaan Banjar tumbuh.[]

SHARE THIS: