HomeEVENTWFC; Agar Kawasan Pinggir Sungai Jadi Ruang Publik yang Nyaman

WFC; Agar Kawasan Pinggir Sungai Jadi Ruang Publik yang Nyaman

SHARE THIS:

Betapa pentingnya ruang publik. Adanya ruang publik yang nyaman merupakan salah satu yang bisa membuat warga hidup dengan bahagia di sebuah kota.

Pemko Banjarmasin tak melupakan penyediaan ruang publik, salah satunya dengan menjadikan kawasan pinggir sungai sebagai Water Front City (WFC). Dengan menjadikannya pinggir sungai sebagai WFC, maka akan terbangun ruang publik yang nyaman bagi warga.

Menurut ahli, prinsip perancangan water front city adalah dasar-dasar penataan kota atau kawasan yang memasukan berbagai aspek pertimbangan dan komponen penataan untuk mencapai suatu perancangan kota atau kawasan yang baik. Kawasan tepi air merupakan lahan atau area yang terletak berbatasan dengan air seperti kota yang menghadap ke laut, sungai, danau atau sejenisnya.

Bila dihubungkan dengan pembangunan kota, kawasan tepi air adalah area yang dibatasi oleh air dari komunitasnya yang dalam pengembangannya mampu memasukkan nilai manusia, yaitu kebutuhan akan ruang publik dan nilai alami.

Bila mengutip dari tesis yang disusun oleh Sri Rezeki, waterfront adalah kawasan yang terletak berbatasan dan berhadapan dengan laut, sungai, danau, dan yang sejenisnya.

Pada Waterfront terdapat kontak fisik antara kawasan dengan air di perbatasannya dan merupakan orientasi pengembangan pembangunan fisiknya. Faktor berkembangnya waterfront lebih dipengaruhi oleh kesadaran akan lingkungan, air bersih, tekanan dan perkembangan area pusat kota serta pembaharuan kota. Pengembangan kawasan kota waterfront ini secara global sangat berguna untuk menambah daya tarik tatanan fisik kota dan memperkuat perekonomian kota.

Selama ini sungai seringkali menjadi bagian belakang rumah. Sehingga banyak orang abai untuk merawatnya, nah, WFC adalah sebuah pilihan solusi agar sungai-sungai yang ada di kota berjuluk seribu sungai ini, bisa menjadi salah satu ruang publik yang bersih dan nyaman.

“Sungai adalah beranda depan kita, bukan beranda belakang. Kalau masih bagian belakang artinya masih membuang sampah ke belakang, tetapi kalau sungai adalah halaman rumah kita, maka itu adalah beranda rumah kita, tidak mungkin membuang sampah ke halaman rumah sendiri, akhirnya tidak ada lagi yang buang sampah ke depan rumah,” ujar Walikota Banjarmasin H Ibnu Sina, seperti yang dimuat dalam laman banjarmasinkota.go.id

Banjarmasin sebenarnya sudah mempunyai contoh kawasan pinggir sungai yang menjadi ruang publik, yaitu di Kampung Hijau dan Kampung Biru.

“Ketika kita ingin membangun ruang-ruang publik, beranda rumah di bantaran sungai itu kan merupakan ruang-ruang publik yang bisa dimanfaatkan untuk pelataran rumah dan untuk bersosialisasi. Sekarang Kampung Hijau dan Kampung Biru menjadi objek pariwisata karena sudah bagus dan tertata rapi,” kata Ibnu Sina.

SHARE THIS: